[ PART 2 ] Bertahan atau Pergi . . .

Friday, May 13, 2016

Part Sebelumnya :



        Pagi itu adalah pagi dimana seharusnya semua orang bahagia, hari dimana waktu bekerja akan segera berakhir, yaitu hari Kamis. Berbeda dengan argumen tersebut, di pagi yang indah itu mood Afi seketika mulai buruk karena saat pertama kali masuk kantor, ia langsung bertemu dengan Dava. Mereka hanya saling melewati, tak ada saling menatap atau bahkan berbicara. Afi berjalan terus sampai mejanya dan memulai bekerja dengan perasaan dan pikiran yang tidak karuan. Sejak kejadian hari itu, hari dimana Afi mendapat kabar jika Dava telah mengetahui perasaannya dan hari dimana sikap Dava berubah seratus delapan puluh derajat, perasaan dan pikiran Afi menjadi semakin kacau. Seakan-akan sangat susah untuk Afi fokus dengan pekerjaannya, tetapi dengan berusaha sangat keras ia berusaha mengembalikan fokus tersebut, berusaha melupakan masalahnya dengan Dava.

        Waktu terus berjalan hingga jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Karyawan lain yang satu lantai dengan Afi telah berbondong-bondong pergi untuk makan siang, yang tersisa di lantai itu hanyalah Afi dengan beberapa teman dekatnya dan Dava dengan beberapa teman dekatnya. Afi yang saat itu masih berusaha fokus akan pekerjaannya tetap berada di mejanya tanpa beranjak pergi untuk makan. Awalnya perasaan dan pikiran Afi masih dapat diatur, sampai Afi mendengar suara gaduh dari Dava dan teman-temannya. Entah berawal dari percakapan apa mereka pun memutuskan untuk pergi makan ramai-ramai satu lantai. Dava dengan bersemangat menawarkan semua orang yang tersisa di lantai tersebut kecuali Afi. Detik itu juga mata Afi berkaca-kaca tanpa ia sadari dan seketika itu juga banyak pertanyaan muncul di benak Afi.
"Apakah aku ini segitu nggak diliriknya sama si Dava ?" pikirnya.
"Apa karena aku duduknya di pojokan jadi dia nggak bisa liat aku gitu ?" pikirnya lagi.
"Ya ampun emang aku bener-bener segitu nothingnya ya sampai aku nggak dianggap orang di tempat itu" pikirnya lagi dan lagi. Berjuta pertanyaan dan berjuta penyesalan muncul di batin Afi. Hingga ketika Dava dan mereka yang ikut makan bersama telah pergi meninggalkan lantai tersebut, Afi langsung pergi ke kamar mandi. Afi tak lagi kuasa menahan semua batin yang ia rasakan, antara sakit dan penyesalan semuanya menjadi satu bergejolak di dalam hati dan pikiran Afi. Bahkan logika pun tak lagi mudah meredam semua tekanan batin tersebut.

        Tak cukup sampai disitu, saat jam dinding perlahan berjalan menunjukkan pukul lima Afi sangat senang karena akhirnya bisa pulang meninggalkan segala kepedihan hari itu. Namun rencana Tuhan berkata lain, sore itu saat Afi akan bergegas pulang dari kejauhan Dava memanggilnya dan dengan ekspresi jutek serta cuek, Dava berkata :
"Afi besok ke client, review project, pagi ya" ucap Dava.
Dengan kaget Afi menjawab :
"Oh oke"
"Kamu sendirian ya" balas Dava.
"Ha? Serius an?" balas Afi.
"Enggak enggak, sama aku" balas Dava.
"Oke" balas Afi.
"Besok jam delapan berangkat dari kantor" balas Dava.
"Iya" balas Afi.
Entah apa rencana Tuhan, tapi hari itu Afi seakan mendapat pukulan berkali-kali. Semua terjadi seketika dalam hari yang sama, di tempat yang sama dan lagi lagi dengan Dava. Pikiran Afi sore itu semakin tak karuan, ia bingung harus bersikap bagaimana saat pergi bersama Dava. Malam tak lagi indah saat hati dan pikiran Afi tak lagi tenang. Ada perasaan bahagia karena Afi bisa pergi bersama Dava, namun bahagia itu kalah dengan kesedihan Afi akan segala sikap dingin Dava padanya.

        Jam dinding terus berputar, waktu terus berjalan dan mentari pun perlahan menampakkan sinarnya. Afi terbangun dari tidurnya, bergegas mandi dan siap-siap ke kantor. Sekitar pukul 07:30 WIB Afi pun pergi ke kantor dan sampai di kantor sekitar pukul 07:55 WIB. Suasana pagi itu sangat sepi, belum banyak karyawan yang datang bahkan batang hidung Dava pun belum terlihat. Pagi itu Afi sengaja tidak menunggu di mejanya, ia menunggu Dava di ruang meeting lantai satu yang posisinya dekat dengan pintu masuk kantor sambil mengerjakan pekerjaannya. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, terdengar suara kaki orang berjalan dari pintu masuk kantor. Suara kaki itu tak asing ditelinga Afi, sebuah suara kaki berjalan yang cukup khas di telinga Afi.
"Itu pasti Dava" ucap Afi dalam hati.
Setelah suara kaki itu perlahan menjauh, Afi pun melihat ke arah jendela untuk memastikan siapa orang yang berjalan itu. Rupanya benar dugaan Afi, suara kaki berjalan itu memang dari Dava, ia baru saja datang dan Afi melihatnya saat ia akan naik tangga menuju lantai dua.

        Sambil menunggu Dava bersiap-siap untuk pergi, Afi pun kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya. Sekitar sepuluh menit kemudian, Dava pun turun dan memanggil Afi.
"Afi, ayo" ucap Dava.
"Iya" balas Afi.
Dava berjalan duluan dan mengginggalkan Afi. Sementara Afi masih bersiap-siap merapikan laptop dan tasnya. Ketika Afi sampai di lobby kantor, rupanya Dava masih bersantai sambil merokok di depan kantor. Mereka masih menunggu satu orang lagi rupanya, dia tak lain dan tak bukan adalah teman dekat Dava yang juga akan pergi ke client yang posisinya adalah satu area denga client Afi dan Dava. Lima menit kemudian, teman Dava pun datang dan mereka bertiga bergegas pergi. Hari itu mereka naik mobil kantor, pergi berempat dengan formasi Dava duduk di sebelah Pak Supir sedangkan Afi dan teman Dava duduk di belakang. Afi tak mampu banyak mengucapkan kata-kata ketika mendengar Dava dan temannya begitu asik ngobrol. Afi hanya mampu terdiam membisu, berusaha tidur adalah solusi terbaik baginya selama diperjalanan.

        Setelah sekitar satu jam, mereka pun sampai di client masing-masing. Afi dan Dava berjalan bersama, naik lift dan masuk ke kantor client. Waktu terus berjalan, mentari pun semakin dekat di pucuk barat seakan ingin segera terbenam. Jam dinding pun menunjukkan waktu pulang yaitu pukul lima sore. Afi dan Dava pun keluar dari kantor client, turun menggunakan lift dan berjalan keluar menuju taman di depan kantor client dan duduk di sebuah bangku kosong dekat air mancur taman untuk menunggu teman Dava yang belum pulang. Pada bangku yang jika diukur adalah sekitar satu setengah meter lebih sedikit, Afi dan Dava duduk pada setiap ujung bangku tersebut. Dava dengan santai mengeluarkan puntung rokok kebanggannya dan menunggu sambil merokok. Sementara Afi yang sebenarnya tak sanggup menghirup asap rokok karena membuatnya sesak nafas hanya dapat diam memainkan hp sambil menahan nafas setiap beberapa saat. Beruntungnya mereka tak perlu menunggu lama, karena setelah sekitar lima belas menit menunggu, teman Dava pun memberi kabar jika dia sudah bisa pulang. Dava pun menelpon Pak Supir untuk menjemput Afi dan Dava di taman.

        Tak lama kemudian Pak Supir datang, Afi dan Dava segera naik ke mobil. Mereka berjalan perlahan menuju posisi teman Dava untuk menjemputnya. Setelah teman Dava masuk ke mobil, pasukan pun lengkap. Mereka berempat bergegas pulang ke kantor sebelum jalanan menjadi semakin macet karena mereka pulang disaat orang lain juga pulang dari kantor.

        Hari hari berikutnya Afi dan Dava masih pergi ke client, Senin, Selasa dan Rabu adalah jadwal mereka untuk ke client. Ini seperti kencan kerja yang antara diinginkan dan tidak oleh Afi. Hal ini diinginkan Afi karena selama ini ia belum pernah pergi ke client berdua dengan Dava. Namun hal ini pun membuat Afi semakin kacau, semakin hari pikiran Afi tak lagi fokus. Ia selalu bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat bersama Dava. Ia selalu menyesal ketika setiap detik melihat Dava, sebuah penyelasan atas perasaan Afi selama ini. Semakin hari Afi pun semakin terpukul dan pikirannya kacau karena begitu banyak rasa takut dan keresahan di hati dan pikiran Afi. Semua itu muncul karena Dava, teman dekat Dava serta orang kantor semakin hari semakin banyak yang mengetahui perasaan Afi terhadap Dava. Sebuah kondisi yang sangat tidak nyaman bagi Afi. Tanpa disadari semakin hari Afi semakin sering meneteskan air mata baik itu disengaja maupun tidak. Kebiasaan ini membuat mata Afi sering terlihat sembab atau bengkak.

        Sampai pada minggu kedua di bulan September, tepat di hari Senin saat Afi diharuskan pergi sendiri dari kantor ke client yang sama dengan saat ia pergi bersama Dava. Berbedanya hari itu Dava tidak ikut karena ada pekerjaan yang mengharuskan Dava tidak bekerja di kantor selama satu bulan. Dava diharuskan bekerja di kantor client yang tak lain dan tak bukan client tersebut sebenarnya adalah client yang sama dengan client yang akan Afi datangi. Hari itu Afi ke client bersama rekan lain yang telah sampai di kantor client terlebih dahulu karena berangkat langsung dari rumah. Afi cukup senang karena akhirnya ia tak perlu pergi berdua dengan Dava. Namun seakan tak bisa benar-benar lepas, meskipun Dava bekerja untuk project lain ia tetap masih ikut turun tangan untuk project yang Afi pegang.

        Siang itu dengan posisi masih berada di kantor client, ketika Afi baru saja selesai sholat ia langsung kembali duduk di mejanya untuk melanjutkan pekerjaan. Disaat Afi sedang fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba Dava datang kemudian duduk di kursi sebelah Afi dan bertanya beberapa hal tentang project yang sedang Afi kerjakan. Sampai terlontar sebuah pertanyaan aneh dari Dava :
"Itu mata kamu kenapa? Habis nangis a ya ?" tanya Dava.
Sontak pertanyaan itu membuat Afi terdiam seketika, entah bagaimana bisa Dava tiba-tiba bertanya seperti itu. Dengan berbohong Afi menjawab :
"Enggak, aku nggak habis nangis kok" balas Afi.
Suasana pun hening, Dava dan Afi berhenti saling bicara lalu Dava pergi meninggalkan Afi.

        Hari itu waktu berjalan cukup cepat, jam dinding telah menunjukkan pukul lima sore. Afi dan rekannya pun bergegas pulang meninggalkan kantor client. Afi pergi bersama Pak Supir dengan menggunakan mobil kantor. Sore itu tak begitu cerah, jalanan pun telihat lebih ramai dari biasanya. Entah kenapa firasat Afi sore itu tak begitu baik. Pikiran dan hatinya pun masih penuh dengan semua rasa kacau yang ia rasakan. Bagaimana bisa ketika Afi berusaha untuk bertahan, semuanya seperti menjadi semakin buruk bagi Afi. Pikiran tak lagi fokus, pekerjaan Afi perlahan menjadi berantakan. Detik demi detik berlalu, Afi dan Pak Supir pun telah sampai di dekat kantor, namun Afi meminta diantar sampai dekat rumahnya yang tak jauh dari kantor.

        Sampai di rumah Afi tak langsung beristirahat, ia melanjutkan pekerjaannya. Namun ada sebuah rasa aneh yang Afi rasakan. Ketika ia akan memulai bekerja, perut Afi terasa sangat sakit. Begitu sakitnya hingga Afi tak lagi mampu melanjutkan rencananya untuk bekerja. Afi pun berusaha tidur untuk menghilangkan rasa sakit tersebut.

        Mentari pun menyambut pagi, Afi terbangun dari tidurnya dengan rasa sakit di perut yang masih teramat sangat. Afi tak lagi mampu menahannya, ia pun kembali tidur setelah meminta izin tidak ke kantor kepada manajernya. Di sore hari ketika Afi merasa kuat untuk keluar rumah, Afi pun pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisinya.
"Jadi saya kenapa ya dok?" tanya Afi setelah diperiksa oleh dokter.
"Kamu sering nggak makan ya? Sering telat makan juga ya?" tanya dokter pada Afi.
"Iya dok, saya belakangan emang sering telat makan, kadang juga nggak makan" jawab Afi.
"Pantas saja, asam lambung kamu tinggi sekali. Itu yang membuat perut kamu terasa sangat sakit. Banyakin istirahat, jangan terlalu banyak pikiran, makan juga harus yang halus. Ini resepnya kamu tebus di apotek depan ya" balas dokter.
"Iya dok, terimakasi" balas Afi.

To be continue . . .

Yeaayy, maaf nih part 2 nya masih bersambung hehe. Nanti yang part 3 itu uda terakhir kok :D ini aku males aja kalau nulisnya puanjang banget tanpa ada gambar-gambar, i dont like it hahaha. Jadi ceritanya aku stop dulu sampai disini...
Tunggu part 3 nya yaaahhh, insyaallah rilis minggu depaaan :D doakan saya ada waktu buat nulis wkwkwk :D byeee, see you on the next post! Happy Reading :))

Part Selanjutnya :

You Might Also Like

0 komentar