Kekuatan Anak Negeri

Wednesday, December 03, 2014

Cerpen by Aldena Oktavian Permatasari


                Sampah-sampah di sepanjang jalan, terik matahari yang panas dan kemacetan Jakarta yang tiada henti telah menjadi saksi bisu akan kehebatan setiap manusia didalamnya. Pemuda-pemudi dengan wajah-wajah imut, selayaknya anak muda belum berkeluarga telah merasakan susahnya hidup. Berbekal barang-barang bekas mereka jadikan sebuah benda bermanfaat yang mampu membantu mereka mendapatkan recehan-recehan untuk menyambung hidup.

                Tanpa pendidikan yang layak dan dengan umur yang masih sangat muda telah membawa mereka masuk dan merasakan susahnya hidup, susahnya mencari makan, susahnya mencari recehan-recehan itu. Terlalu banyak kondisi keluarga di Jakarta yang tidak memiliki pendapatan matang mengharuskan anak-anak belia ini putus sekolah dan membantu orang tua mereka mencari nafkah. Ada beberapa hal yang bisa saja menjadi penyebab keluarga-keluarga ini tak mampu membiayai keluarganya dengan baik adalah karena pernikahan yang terlalu dini, dan kurangnya pengalaman atau pendidikan sehingga tak mampu mendapatkan pekerjaan yang layak.

                Keadaan-keadaan tersebut terkadang menjadi sebuah beban berat bagi orang tua juga bagi anak mereka. Namun hebatnya manusia-manusia di negeri ini adalah kuatnya tekad mereka untuk mencari recehan-recehan itu demi menyambung hidup mereka. Anak kecil, remaja, sampai kakek/nenek semua begitu semangat mencari recehan itu di setiap jalan, di setiap gang, di setiap sudut ibukota.

                Tak terkecuali aku, pemilik nama Dimas dengan umur delapan tahun, aku berbeda dengan teman-teman sebayaku lainnya, mereka yangs setiap pagi berjalan dari rumah ke sekolah bersama teman-teman, dibekali beberapa recehan untuk membeli jajan di sekolah, menerima pelajaran dari guru, dan bercanda tawa bersama teman-teman kini tak lagi kurasakan. Kebiasaan itu hanya mampu dilakukan oleh mereka yang memiliki recehan berlimpah sehingga dapat membelikan anak-anak mereka seragam sekolah, tas, sepatu dan buku-buku bagus. Aku yang tak mampu mebiayai setiap keperluan sekolah hanya mampu tersenyum dan menghela nafas ketika melihat teman-teman seusiaku berjalan dengan bahagianya menuju sekolah. Kegiatan sehari-hariku adalah pergi ke sebuah jalan raya di perempatan dekat lampu merah membawa sebuah kayu kecil yang digabung dengan bekas tutup botol yang diratakan sehingga dapat menghasilkan suara-suara dan dijadikan sebagai alat musik untuk kugunakan dalam mencari recehan-recehan itu. Suaraku yang pas-pasan, bajuku yang lusuh tak lagi bersih dan wangi, sandal yang sudah sangat tipis kemudian berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya menyanyikan sebuah lagu sampai para pengendara itu memberiku beberapa recehan lalu kumasukkan ke dalam saku celanaku yang lusuh.

                Aku mencari recehan itu mulai pukul tujuh pagi sampai pukul delapan pagi. Aku sangat menyadari kondisi kehidupanku, kondisi keuangan orang tuaku. Walau umurku masih sangat muda, tapi pemikiranku sudah cukup dewasa, semua ini karena hidup yang memaksaku harus berpikir dewasa. Aku memang masih anak kecil, aku bukan mereka para remaja dan para orang dewasa yang sudah mampu mencari pekerjaan yang layak. Tapi aku punya mimpi yang mungkin bisa lebih tinggi dari mimpi mereka. Aku ingin menjadi dokter, aku ingin mendirikan sekolah gratis untuk mereka yang tak mampu bersekolah. Jadi dokter memang tak mudah, aku harus mengumpulkan recehan demi recehan lebih banyak agar mampu sekolah kembali. Itulah sebabnya setiap pagi aku hanya mencari recehan itu sampai pukul delapan, sisanya sampai pukul dua aku selalu pergi ke sebuah Sekolah Dasar yang tak jauh dari tempatku mencari recehan tadi. Aku melihat dari jendela, berusaha memahami setiap pelaran yang berlangsung hari itu. Dengan berbekal buku bekas yang sangat kotor dengan bulpoin yang kupungut di jalanan, aku menulis setiap kalimat yang penting agar dapat kupelajari kembali.

                Ketika jam dinding telah menunjukkan pukul satu siang atau ketika bel pulang sekolah telah dibunyikan, aku sesegera mungkin meninggalkan tempat tersebut agar tak ada seorang pun yang melihat keberadaanku, tiada mampu diri ini jika harus menerima hinaan dari mereka. Seperti dulu saat aku pertama kali ke sekolah tersebut ketika mereka keluar dari kelas aku menyapa mereka dengan senyuman, tetapi apa daya dengan penampilanku yang sangat lusuh mereka pun meledekku, menghinaku. Jujur rasanya saat itu aku ingin menangis, tapi hati ini menguatkanku agar tidak menangis aku harus kuat. Walau pernah mendapat pengalaman buruk seperti itu, tetapi hati ini pun selalu menguatkanku agar tak lagi memikirkan kejadian tersebut, aku harus terus ke sekolah tersebut dan terus mendengarkan setiap pelajaran yang dilaksanakan. Karena meskipun tak mampu lagi bersekolah, aku tak mau menjadi orang bodoh, aku ingin menjadi orang yang pandai agar kelak mampu bersaing dengan mereka yang pandai pula, dan tentunya agar kelak aku mampu meraih semua mimpi-mimpi yang benar-benar telah kutanamkan dalam hati.

                Sekitar pukul dua siang aku kembali mencari recehan-recehan itu, namun tak lagi di jalanan. Aku mencarinya dari rumah ke rumah, menyanyikan setiap lagu sampai habis kemudian menunggu pemilik rumah memberiku recehan itu. Jujur saja aku lebih suka mencari recehan dari rumah ke rumah daripada di jalanan. Karena recehan yang kudapat setiap aku mencari di perumahan selalu lebih banyak dibandingkan ketika aku mencari di jalanan. Cukup lama aku mencari recehan itu di perumahan, yaitu sampai sekitar pukul tujuh malam. Setelah itu aku kembali ke jalanan mencari recehan lagi hingga tengah malam. Jika tengah malam atau sekitar jam dua belas malam teman-teman sebayaku sudah terbaring lelap di kasur mereka yang empuk, berbeda seratus delapan puluh derajat denganku yang jam dua belas itu baru selesai bekerja mencari recehan dari jalanan ke perumahan kemudian kembali lagi ke jalanan. Setiap recehan yang telah kudapat, setengahnya selalu kuberikan pada orang tua dan setengahnya lagi kutabung. Itulah kegiatan sehari-hariku yang sangat jauh berbeda dengan teman sebayaku lainnya. Tapi rasanya tekad ini tak mampu lagi dikalahkan, walau aku tak mampu bersantai seperti teman sebayaku lainnya, aku tetap semangat menjalani hidup ini, semangat mencari recehan itu sampai keringatku bertumpahan.

                Orang tuaku pun tak mampu berbuat apa-apa, mereka tak mampu melarang setiap perbuatanku asalkan itu positif. Karena kondisi orang tuaku yang sangat pas-pasan membuat mereka harus merelakan anaknya untuk bekerja meski di usia yang masih sangat muda. Setiap hari orang tuaku tidak menyanyi sepertiku dari kendaraan ke kendaraan atau dari rumah ke rumah. Tapi orang tuaku bekerja keras menjadi pemulung. Tentu saja recehan hasil memulung sangatlah minim. Setiap senyuman dan semangat yang muncul dari kedua orang tuaku selalu menjadi semangat dan motivasi terbesar untukku. Membuatku semakin ingin menjadi dokter, menjadi orang sukses agar orang tuaku tak perlu lagi memungut sampah-sampah di jalanan yang bau dan kotor.

                Suatu hari, sama seperti biasanya aku melakukan kegiatan rutinku. Mencari recehan di perumahan sekitar pukul dua siang. Namun tiba-tiba saja datang empat remaja yang umurnya sudah pasti lebih tua menghampiriku yang sedang duduk beristirahat di trotoar pinggir jalan. Mereka mengajakku untuk bergabung dengan band mereka. Sebenernya sih bukan band, tapi lebih seperti sekumpulan pengamen yang berkolaborasi menjadi satu menyanyikan sebuah lagu dari cafe ke cafe. Setelah kutanya apa alasan mereka mengajakku, ternyata jawaban mereka adalah “Suaramu lumayan dan permainan gitarmu bagus. Kita sering banget secara nggak sengaja liat dan dengerin waktu kamu ngamen”. Padahal aku pikir selama ini suaraku fals banget dan permainan gitarku acak-acakan, tapi itu tak penting. Yang pasti mendapat tawaran seperti itu tentu saja aku mau. Walaupun hanya sekumpulan pengamen yang nyanyi di cafe paling tidak hasilnya lebih besar daripada aku ngamen biasa dan ini bisa membantuku lebih cepat mengumpulkan uang untuk kembali bersekolah.

                Keesokan harinya mulai pukul setengah lima sore aku tak lagi ngamen seperti biasa, tetapi aku bernyanyi dari cafe ke cafe bersama kakak-kakak yang mengajakku. Disini aku tidak sebagai vokalis, aku hanya memainkan gitarku seperti biasa dan menjadi backsound. Yang menjadi vocalis adalah Kak Rio, sisanya ada Kak Damar, Kak Vino dan Kak Bima. Mereka adalah kakak-kakak yang baik, punya mimpi dan tentu saja selalu mendukung pula setiap mimpiku. Kini kegiatan rutinitasku sedikit berubah, di perumahan aku hanya ngamen dari jam dua siang sampai jam setengah empat sore. Malamnya pun aku tak lagi ngamen di jalan raya. Jadi mulai pukul empat sore sampai tengah malam aku nyanyi di cafe bersama Kak Rio, Kak Damar, Kak Vino dan Kak Bima.

                Sejak aku bergabung bersama mereka, rasanya tabunganku semakin cepat bertambah, recehanku semakin cepat bertambah. Hingga suatu pagi tepat di hari Minggu, aku menghitung jumlah recehanku. Dan benar-benar tak kusangka karena ternyata recehan yang kutabung sejak lama itu telah berjumlah 754.000 rupiah. Jumlah itu sangat cukup untuk membeli keperluan sekolah. Betapa bahagia diri ini saat aku mengetahui jumlah sebanyak itu. Akhirnya hari itu juga aku langsung membeli peralatan sekolah, mulai dari seragam, sepatu, buku, bulpoint, pensil, dan peralatan tulis lainnya. Rasanya tak sabar aku menunggu hari esok yang tak lain adalah hari Senin. Aku ingin datang ke sebuah Sekolah Dasar yang selama ini sering ku datangi. Aku ingin mencoba mengurus proses masukku ke sekolah tersebut. Dari pagi sampai sore aku memang memutuskan untuk libur ngamen di jalanan dan di perumahan, aku ingin menghabiskan pagi sampai soreku untuk membeli peralatan sekolah. Lalu malamnya aku kembali mencari recehan di cafe.

                Keesokan harinya Ayah mengantarku ke Sekolah Dasar yang biasa kudatangi, dengan memakai seragam baru, sepatu baru, tas baru dan semua yang serba baru aku melangkah dengan senyuman lebar menuju sekolah tersebut. Bahagia sekali rasanya jika hari ini aku mampu memulai kembali masa sekolahku. Setelah menunggu beberapa menit Ayah berbicara dengan Bapak Kepala Sekolah, dan akupun diperbolehkan untuk bersekolah disini. Beruntung masih ada dana BOS, jadi aku tak perlu khawatir dengan biaya sekolah. Setelah berbicara beberapa menit Ayah langsung memelukku dengan senyuman kebahagiaan.

“Ayah bangga sama kamu Nak, akhirnya sekarang kamu bisa kembali bersekolah. Pertahankan ya Nak, maaf Ayah selama ini tidak membantumu mengumpulkan uang. Kamu mengumpulkan uangmu sendiri dengan susah payah. Ayah benar-benar bangga padamu Nak, Ayah sayang sama kamu”

Tak kuasa mendengar semua yang Ayah katakan aku pun menangis, aku terharu, aku bahagia. Lalu Ayah melepaskan pelukannya dan berkata :

“Yasudah kalau gitu kamu sekolah ya. Ayah balik dulu. Kamu belajar yang bener supaya mimpimu bisa tercapai ya Nak”

“Amin yah. Makasi yaa” jawabku.

                Kini rutinitasku berubah lagi, kali ini berubah hampir seratus delapan puluh derajat. Dari pagi sampai siang aku sekolah, lalu dari siang sampai sore aku belajar dan mengerjakan semua tugas sekolah. Kemudian malamnya baru aku mencari recehan lagi di cafe-cafe seperti biasanya. Walau sekarang aku sudah kembali bersekolah, tapi kewajibanku untuk mengumpulkan recehan-recehan itu tetap masih ada. Aku harus tetap menabung untuk biayaku sekolah nanti saat SMP, SMA, sampai perguruan tinggi. Mungkin jika aku bermimpi untuk dapat masuk ke SMA dan perguruan tinggi adalah suatu hal yang mustahil, mengingat biayanya yang banyak karena tak lagi mendapat dana BOS. Tapi semua itu tak menyurutkan niatku, mungkin jika aku hanya mengandalkan uang memang tak mampu. Jadi aku berniat untuk menjadi siswa teladan dan pandai agar aku mendapat beasiswa saat SMA dan kuliah.

                Hari-hari baruku berjalan dengan sangat lancar dan menyenangkan. Recehan yang kudapat saat bersama Kak Rio, Kak Damar, Kak Vino dan Kak Bima pun semakin banyak. Orang-orang semakin mengenal kami dan memberi apresiasi yang bagus untuk kami. Bersyukur sekali rasanya, karena dengan apresiasi yang bagus itu kami jadi makin sering nyanyi dari cafe-cafe. Recehanku pun semakin cepat bertambah.

                Hari semakin cepat berlalu, dengan rutinitasku yang sama sekali tiada waktu untuk bersenang-senang membuatku lupa akan waktu. Tak terasa kini aku sudah kelas tiga SMP, tak lama lagi aku akan lulus dan melanjutkan ke SMA. Recehanku telah cukup untuk membeli peralatan sekolah SMA ku nanti, tapi saat masuk SMA nanti aku perlu berjuang keras karena harus mendapat beasiswa jika ingin lanjut ke jenjang SMA. Yang perlu kulakukan sekarang hanya lebih giat belajar agar nilai UNAS ku nanti maksimal. Karena dari pengumuman beasiswa yang kudapat, salah satu syaratnya adalah mendapat nilai UNAS sempurna dengan nilai raport selama tiga tahun minimal rata-rata 9. Ini benar-benar  persyaratan yang sulit, tapi bersyukurlah karena rata-rata raportku selama tiga tahun selalu diatas 9 jadi butuh  satu langkah lagi agar aku bisa mendapatkan beasiswa yaitu nilai UNAS yang sempurna. Meskipun kini aku harus belajar lebih giat agar mendapat nilai yang sempurna, tapi aku pun tetap harus mencari recehan setiap harinya. Yang dapat kulakukan sekarang hanyalah menambah waktu belajarku tanpa mengurangi waktuku untuk mencari recehan setiap harinya. Bangun pagi pukul setengah empat subuh, belajar sampai pukul setengah enam kemudian melanjutkan aktivitasku seperti biasanya. Semakin sedikit waktuku untuk beristirahat, namun berkurangnya waktu istirahatku ini sama sekali tak mematahkan semangatku. Karena hanya semangatkulah yang mampu membuat mata ini tetap mampu bertahan dengan kuat dalam jangka waktu yang cukup lama.

                UNAS semakin dekat, persiapanku pun semakin meningkat. Tepat tiga hari sebelum UNAS aku libur mencari recehan di jalanan, aku hanya mencari recehan di cafe. Butuh waktu lebih untukku beristirahat dan memantapkan diri untuk ujian nanti. Waktu berjalan begitu cepat, dan hari itu pun tiba. UNAS hari pertama dimulai, aku berangkat meminta restu orang tua, lalu mengerjakan semua soalnya dengan lancar. Empat hari pun berlalu, UNAS selesai dan aku melanjutkan aktivitasku seperti sebelumnya. Kembali mencari recehan-recehan itu sambil menunggu hasil UNAS. Semakin padat jadwalku mencari recehan dari cafe ke cafe, semakin banyak cafe yang memanggilku dan kakak-kakak lainnya untuk tampil di cafe mereka. Tentu saja ini membuat recehanku semakin bertambah banyak, tabunganku semakin banyak dan recehan yang kuberikan pada orang tua pun semakin banyak.

                Detik-detik pengumuman hasil UNAS, seluruh siswa kelas tiga dikumpulkan di tengah lapangan. Bapak kepala sekolah dengan beberapa guru lainnya telah berdiri siap di depan lapangan dengan membawa beberapa kertas yang kemungkinan adalah data siswa yang lulus. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Bapak kepala sekolah membuka pembicaraan, mengucap syukur dan sedikit sambutan lalu menyebutkan sepuluh besar untuk peraih nilai UNAS terbaik di sekolah. Perlahan disebutkan dari urutan ke sepuluh hingga urutan kedua, namun sama sekali tak ada namaku terpanggil. Rasanya mulai luntur semangatku untuk mampu melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Beberapa menit kemudian, Bapak kepala sekolah menyebutkan sebuah nama yang menjadi peringkat pertama. Setelah hampir hilang semangatku untuk melanjutkan ke tingkat SMA, tiba-tiba terdengar seseorang menyebut nama lengkapku sebagai peringkat pertama dari sepuluh besar nilai UNAS terbaik di sekolah dengan nilai rata-rata 10 atau sempurna. Rasanya seketika semangatku tumbuh kembali bahkan semakin kuat. Aku maju kedepan bersalaman dengan Bapak kepala sekolah dan beberapa guru lainnya, menerima sebuah hadiah kecil dari sekolah sebagai penghargaan untuk kami peraih sepuluh besar nilai UNAS terbaik di sekolah.

                Beberapa menit kemudian semua siswa kelas tiga diperbolehkan pulang, aku langsung berlari menuju kedua orang tuaku untuk memberi kabar gembira ini. Sepanjang jalan aku meneteskan air mata, tak menyangka jika semua ini menjadi kenyataan. Seperti mimpi, itulah yang kurasakan. Berawal dari aku seorang anak jalanan yang tak mampu bersekolah tapi kini aku mampu bersekolah, mendapat  nilai sempurna di UNAS tingkat SMP, sungguh ini sebuah keajaiban yang kudapat dari Tuhan. Dan sampailah aku di hadapan kedua orang tuaku. Terlihat mereka terkejut melihat tingkahku yang berlari tak karuan. Lalu tanpa banyak omong aku langsung mengucapkan poin penting yang ingin kukatakan.

“Ayah Ibu, aku lulus. Aku dapat nilai sempurna. Aku dapat rata-rata 10” ucapku.

“Alhamdulillah anakku. Kamu hebat. Selamat ya Nak. Sekarang kamu bisa melanjutkan keinginanmu untuk bersekolah di SMA” kata Ayahku.

“Anakku, selamat ya. Ibu bangga sama kamu Nak. Semoga semua mimpimu tercapai ya. Ibu selalu mendoakanmu Nak” kata Ibuku.

Menangis, iya tentu saja aku menangis mendengar setiap ucapan orang tuaku. Tapi tangisan ini, bukan tangis kesedihan. Ini tangis kebahagiaan, sebuah kebahagiaan seorang anak yang sedikit demi sedikit membuat orang tua tersenyum bahagia atas apa yang kuraih dan kumiliki.

                Yang harus kulakukan saat ini adalah mendaftarkan diri ke sebuah SMA yang membuka peluang beasiswa. Aku memberikan semua berkas yang diperlukan. Beberapa SMA kudatangi, aku daftar hampir di lima SMA yang berbeda. Dan setelah menunggu selama hampir satu bulan, akhirnya diumumkan bahwa aku diterima di semua sekolah yang kudatangi. Lagi lagi ini sebuah keajaiban untukku, lalu kupilih satu SMA yang cukup bagus dan letaknnya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku, di daerah kumuh dekat jembatan. Kujalani masa SMA ku dengan baik, aku bersyukur semua teman di SMA ku mampu menerima kondisiku sebagai anak jalanan. Tak ada diantara mereka yang menghinaku, semua guru dan siswa menghargai kondisiku. Hingga tak terasa masa SMA ku akan berakhir, aku sudah kelas tiga SMA, lagi lagi aku harus berhadapan dengan UNAS. Tapi itu tak masalah, yang perlu kulakukan hanya melakukan teknik belajar seperti apa yang kulakukan saat SMP.

                Setelah lulus SMA nanti tentu saja aku tidak mau berhenti di pendidikan SMA. Cita-citaku yang ingin menjadi dokter harus tercapai, aku harus lanjut ke tingkat perguruan tinggi. Beruntungnya setelah kucari informasi tentang beasiswa untuk mahasiswa baru, persyaratannya tidak terlalu berat. Yang dibutuhkan hanya data nilai raport dari kelas satu SMP sampai kelas dua SMA, dengan penghargaan yang pernah diraih. Aku hanya bermodal nilai raport kelas satu SMP sampai kelas dua SMA, karena selama ini aku sama sekali belum pernah mengikuti lomba apapun. Tapi meskipun begitu aku tetap optimis, aku pasti bisa mendapatkan beasiswa itu.

                UNAS untuk tingkat SMA telah berlalu, pengumuman kelulusan pun telah diumumkan. Aku mendapat nilai sempurna lagi, dengan rata-rata 10. Satu bulan kemudian pengumuman penerima beasiswa, dari delapan universitas yang kudatangi hanya satu yang menerimaku. Mungkin karena aku hanya bermodal nilai raport, jadi tak banyak universitas yang melirikku. Walau begitu aku tetap mengucap syukur, karena paling tidak ada satu universitas yang menerimaku. Namun masalahnya kini, universitas yang menerimaku ini letaknya sangat jauh dari tempat tinggalku. Universitas ini berada di daerah Tangerang, sedangkan tempat tinggalku di daerah Jakarta Timur. Karena hanya ini satu-satunya universitas yang menerimaku, aku tak punya pilihan lain, aku tetap harus kuliah.

                Beruntungnya uang recehan yang sudah kukumpulkan selama SMP sampai SMA telah berjumlah cukup banyak dan setelah kuhitung recehanku ini dapat digunakan untuk membayar kos selama tiga bulan dan untuk makan selama empat bulan. Kuputuskan untuk tinggal di sebuah kosan di daerah Tangerang. Sambil menunggu hari pertama masuk kuliah, aku mencari pekerjaan. Aku tak lagi mencari recehan dijalanan atau di cafe. Bermodal ijasah SMA, aku melamar pekerjaan dari tempat satu ke tempat lainnya. Setelah berkeliling selama hampir tiga jam akhirnya aku mendapat sebuah pekerjaan menjadi kasir di sebuah resetoran ternama. Meskipun kuliahku mendapat beasiswa, tapi aku tetap harus mencari recehan demi recehan untuk membiayai setiap kebutuhanku selama di Tangerang.

                Empat tahun pun berlalu dengan sangat lancar, aku kini menjadi seorang Sarjana. Aku siap menggapai mimpiku yang telah berada di depan, sangat dekat denganku. Karena belum genap satu minggu aku lulus, ada sebuah rumah sakit yang menawarkanku menjadi dokter umum disana. Mereka tertarik dengan IPK ku yang hampir sempurna, yaitu 3,95. Jadi mereka menawarkan pekerjaan tersebut untukku. Kali ini rasanya benar-benar sebuah mimpi. Tanpa perlu kucari, tawaran tersebut datang sendiri padaku. Langsung saja kujawab tawaran itu dengan jawaban “IYA”.

                Sekarang mimpiku semua telah menjadi nyata. Aku seorang dokter, punya rumah yang layak digunakan, dan aku akhirnya mampu mendirikan sekolahku sendiri. Sebuah sekolah yang diperuntukkan bagi mereka anak-anak jalanan yang tak mampu bersekolah dengan sewajarnya. Kini aku pun mampu membawa kedua orang tuaku ke dalam kehidupan baru yang selama ini mungkin hanya dapat mereka lihat tapi tak dapat dirasakan. Orang tuaku tak lagi bekerja, aku tak ingin lagi melihat kedua orang tuaku susah payah mencari uang. Biarkan hanya diri ini saja yang mencari uang demi membahagiakan beliau beliau yang kini sudah tak muda lagi. Karena aku merasa perjuangan kedua orangtuaku dalam membesarkanku sangatlah tidak mudah dengan kondisi yang sangat kekurangan. Terutama Ibu, aku merasa diri ini tak mampu membalas setiap keringat yang Ibu keluarkan untuk melahirkanku.

                Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, itulah yang kurasakan saat ini. Aku yang dulu hanya menjadi anak jalanan, hanya mampu melihat teman-teman sebayaku berangkat sekolah, sedangkan aku harus mencari recehan-recehan di jalanan demi menyambung hidup, seperti tak mungkin rasanya jika kini aku menjadi dokter. Tapi ini nyata bukan mimpi, ternyata tidak sia-sia perjuanganku selama ini mengumpulkan recehan demi recehan untuk biaya sekolah, dari SD sampai Universitas. Dulu semua itu seakan tak mungkin kurasakan, tapi kini aku mampu membuktikan pada dunia bahwa aku yang hanya anak jalanan akhirnya mampu mewujudkan mimpiku, mewujudkan apa yang aku inginkan. Hanya bermodal mimpi, restu orang tua, dan sebuah kerja keras yang teramat sangat, aku yakin setiap anak di negeri ini meskipun kondisi orang tua mereka sangat kekurangan, mereka pasti mampu mewujudkan setiap mimpi mereka. Karena tak ada yang tak mungkin dari sebuah mimpi. Hidup berawal dari mimpi, itulah yang selalu kupegang dan kuyakini. Hanya mimpi yang mampu menumbuhkan tekad terbesar dalam diri kita untuk maju. Ya, maju untuk mewujudkan mimpi itu walaupun banyak cobaan yang dihadapi.


Inilah “Kekuatan Anak Negeri”, dimana mereka mampu hidup ditengah kota yang keras dengan umur yang sangat muda. Aku yakin setiap anak di negeri ini pasti punya mimpi mereka masing-masing, dan aku percaya anak negeri ini tidak ada yang lemah. Semuanya kuat, sekuat mereka membawa mimpi mereka dari ujung jalan satu ke ujung jalan lainnya. Mencari recehan demi mewujudkan mimpi mereka. Itulah Anak Negeri, Aku cinta Indonesia, Aku cinta Anak Negeri ini dengan segala kekuatan mereka.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar