Berharap Pada Botol Kosong

Wednesday, December 03, 2014

Cerpen by Aldena Oktavian Permatasari


                Dalam sebuah pagi yang sejuk, kala mentari mulai menampakkan keindahannya dari ufuk timur. Aku pun terbangun dari tidurku, membuka jendela lalu melihat keindahan diluar kamar. Hari baru telah datang, kelas baru akan tempati, teman baru akan kutemui, suasana baru akan kujalani. Sebuah tingkatan yang selalu dan pasti terjadi pada setiap siswa di sekolah. Ya, aku pemilik nama Alin baru saja naik dari kelas dua ke kelas tiga, hanya kurang satu tahun lagi aku akan lulus dari SMK. Aku memilih SMK karena aku ingin bekerja setelah lulus nanti, kemudian menabung sampai akhirnya aku mampu bekerja dan kuliah. Sebuah keinginan tulus seorang anak yang ingin mandiri agar tak lagi menyusahkan orang tua.

                Seperti siswa pada umumnya, aku selalu bahagia dan tak sabar ingin memulai hari pertama di kelas baru. Sistem di sekolahku adalah setiap naik kelas, siswa akan diacak kembali. Jadi mulai dari kelas satu sampai kelas tiga teman sekelasnya berbeda-beda. Kalaupun ada teman yang sama ( pernah satu kelas ) itu perbandingannya 30 : 70 . Kebetulan aku sekelas lagi dengan beberapa teman dekatku di kelas dua, sisanya teman-teman baru yang aku sudah kenal dulu namun hanya kenal dalam sebuah nama, tidak lebih. Aku menjalani hari-hariku di awal kelas tiga bersama teman-teman baru yang mulai kukenali lebih dari sekedar nama. Sejak hari pertama di kelas tiga, aku duduk sama teman dekatku di kelas dua yang bernama Ina. Aku dan Ina duduk di bangku nomor dua dari depan. Aku termasuk bukan anak yang rajin, aku hanya patuh. Patuh pada beberapa peraturan sekolah yang hukumannya berat, namun aku tidak patuh pada peraturan-peraturan kecil yang hukumannya pun kecil. Seperti kenakalan siswa pada umumnya, aku dengan beberapa teman dekatku pun seperti itu. Datang terlambat pada beberapa jam pelajaran, beralasan ke kamar mandi padahal ingin pergi ke kantin saat jam pelajarannya membosankan.

                Hampir enam bulan aku menjalani kehidupan baruku dengan indah dan bahagia. Sampai pada suatu hari ketika sebuah kebosanan menghampiriku, sebuah kebosanan dimana aku ingin sebuah posisi duduk yang baru. Aku bosan dengan tempat dudukku yang sangat dekat dengan papan tulis dan guru, aku ingin mencoba suana baru. Hingga ketika aku berkompromi dengan seorang teman untuk bertukat posisi duduk dan dia menyetujuinya, aku pun langsung pindah tempat duduk keesokan harinya. Dari posisi awalku yang berada di bangku nomor dua dari depan, kini aku berada di bangku nomor dua dari belakang. Ina tidak mau ikut pindah, dia tetap dibangkunya. Dan itu artinya aku tak lagi duduk sebangku dengan Ina. Ya tentu saja, sekarang aku duduk dengan seorang cowok yang aku sendiri walau sudah hampir enam bulan satu kelas dengannya tapi aku belum terlalu kenal dengan dia. Hanya sedikit yang kutahu tentangnya, dia adalah Vero seorang anak tinggi tapi kurus, pecinta olahraga terutama basket, dan sudah punya pacar.

                Kumulai hari baruku dengan suasana tempat duduk yang baru pula. Aku sering bercanda tawa dengan Vero, saling ngledek satu sama lain, saling bantu saat pelajaran atau saat ujian. Kami pun akhirnya menjadi dekat, berawal dari duduk sebangku sampai akhirnya hampir setiap hari kami chatting ngomongin hal-hal penting sampai hal-hal yang absurd banget. Sebuah kedekatan yang baru saja kujalani ini mulai menumbuhkan sebuah perasaan lebih di dalam diriku. Namun, sahabatku Civa selalu meyakinkan bahwa :

“Itu bukan cinta Alin, itu Cuma perasaan suka sesaat.”

Kalimat itu yang sedikit meyakinkanku bahwa yang kurasakan saat ini hanyalah perasaan suka sesaat, nggak lebih.

                Sialnya, perasaan ini terus berlanjut dan semakin bertambah, entah karena alasan apa aku pun tak mampu memahaminya. Terlebih ketika aku dan teman sekelas pergi untuk melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan, berangkatnya aku dibonceng oleh teman cewek. Tapi yang tak kusangka saat pulang ketika aku menunggu teman yang tadi memboncengku, Vero lewat dan menawarkanku untuk naik alias dia menawariku tumpangan yang artinya aku dibonceng sama dia. Seneng banget rasanya, aku berusaha bersikap biasa. Aku dan Vero berbicara ini itu, bercanda tawa bersama selama perjalanan. Lebih menyenangkan lagi ketika kami semua sedang makan di sebuah restoran, aku duduk persis di sebelah Vero. Jujur aku sedikit grogi, namun aku stay cool.

                Ketika kami duduk bersebelahan, Vero sedikit curhat padaku. Dia bercerita sedikit tentang hubungannya dengan sang pacar yang ketika itu sedang ada sedikit konflik. Dia bertanya ini itu dan meminta pendapatku. Sebagai teman biasa aku pun memberikan pendapat yang obyektif. Hingga ia mengeluarkan sebuah kalimat yang mungkin sedikit menamparku dalam hati, yaitu :

“Walaupun aku emosi gini ya, tapi aku sayang banget sama dia Lin.”

Sebuah kalimat yang memang sewajarnya diucapkan oleh seorang pacar kepada pacarnya sendiri. Namun, itu adalah kalimat tamparan untukku yang mulai main hati dengan Vero. Sebuah kalimat yang seharusnya menyadarkanku bahwa Vero tak mungkin menjadi milikku.

                Dan sejak saat itu aku mulai menjauh, tapi apa daya dia masih sering meminta bantuanku untuk mengajarkannya matematika. Sebagai seorang teman aku tak mampu menolak permintaan itu, dan akhirnya selama hampir 3 hari aku sering bersamanya untuk belajar matematika. Perasaan itu kembali bertambah, melihatnya membuat perasaanku semakin tak terarah. Kebersamaan itu tetap terjalin sampai satu minggu sebelum kami para siswa kelas tiga liburan.

                Saat liburan aku dan Vero seperti manusia yang tak saling kenal, kami tak pernah saling berbicara atau bercanda tawa. Di bis, aku duduk di depan dia duduk jauh di belakang tepat di depan kamar mandi bis. Aku melihat dia bercanda tawa dengan teman-temannya ( cewek dan cowok ). Kumulai liburanku keeseokan harinya saat telah tiba di temoat wisata. Liburanku selama hampur empat hari itu rasanya tak begitu indah. Kebahagiaan dan kesenangan yang teman-temanku rasakan tak semuanya aku rasakan dengan bahagia. Karena liburanku kali ini dipenuhi dengan perasaan bahagia dan sedih yang tercampur menjadi satu. Seketika aku mampu tertawa lepas, namun seketika pula aku mampu meneteskan air mata tanpa kusadari. Liburan kali ini tak seindah yang kubayangkan.

                Hari-hariku berubah, namun kesedihan itu tak terlalu besar karena aku memiliki sahabat-sahabat yang selalu mampu membuatku tertawa lepas. Sampai tiba saat aku harus meninggalkan kota itu dan pergi ke sebuah kota besar untuk meraih impianku. Sebelum berangkat aku menitipkan sebuah surat untuk Vero, kutitipkan surat itu pada tem sebuah surat yang isinya adalah perasaanku. Entah kenapa aku sangat ingin mengungkapkan perasaan ini, aku tak mampu jika harus memendamnya sendiri. Aku ingin Vero tahu, hanya sekedar tahu, aku tak berharap lebih. Dan ketika waktu telah memintaku untuk segera meninggalkan kota ini, saat lonceng tanda kereta api akan berjalan telah berbunyi tiba-tiba saja hp ini berbunyi, ada sebuah notifikasi chatting di dalamnya. Kulihat nama pengirimnya yang tak lain adalah Vero. Sebuah pesan singkat yang membuatku sedikit melting, bahagia dan sebagainya.

“Hati-hati di jalan ya Lin”.

Namun sebuah kebingungan dalam diri ini ketika membaca pesan itu adalah apa maksudnya mengirim pesan seperti itu setelah sekian minggu ini kita tak saling bicara. Dan tidak mungkin pula jika dia sudah membaca pesanku, karena surat yang kutitipkan tadi baru akan diberikan pada Vero keesokan harinya. Ah sudahlah, aku pun tak ambil pusing masalah ini. Aku yakin mungkin pesan itu hanya sebuah pesan basa-basi dari seorang teman pada temannya yang akan pergi dari kota itu.

                Keesokan harinya aku sampai pada sebuah kota besar, kota baru yang akan kutempati dalam beberapa tahun kedepan. Kota baru dengan lembaran baru pula. Aku memulai hari-hari baruku dengan indah dan tenang, berusaha untuk selalu melupakan setiap hal buruk yang telah kulalui belakangan ini.

                Hampir satu minggu telah berlalu, kehidupan baruku belum begitu sulit untuk dimasa-masa awal. Namun memasuki minggu kedua, ada sebuah perbedaan yang kurasakan. Vero datang lagi, berawal dari sms tentang surat yang kutitipkan pada temannya, sampai pada sebuah ucapan :

“Kita berteman aja kayak biasanya ya”

Sakit, tapi itulah perasaan dia. Aku tak mampu memaksanya. Aku pun sadar diri, tak ingin lagi berhubungan dengan dia. Tapi berbeda denganku, sejak hari itu Vero jadi sering mengirimkanku pesan. Sebuah pesan yang bagiku pesan itu adalah sebuah perhatian dari dia untukku. Seperti layaknya wanita pada umumnya, aku pun bahagia diperlakukan seperti itu. Aku pun membalas perhatiannya padaku. Selama hampir satu bulan lebih kami seperti itu, saling memperhatikan satu sama lain, saling berbagi cerita lucu dan cerita buruk. Sling sharing dan memberi solusi. Terkadang aku berpikir apakah yang kulakukan ini benar atau salah ? Aku tak tahu, yang kutahu aku sekarang bahagia.

                Sampai suatu ketika saat aku membuka sebuah media sosial dan membaca sebuah kalimat dari sesorang yang hubungannya sangat dekat denganku, sebuah kalimat yang mengungkapkan kekesalannya atas sikapku selama ini. Dan entah bagaimana ini bisa terjadi kalimat itu seketika menjadi sebuah cambuk menyakitkan untukku. Membuat diri ini sadar akan kesalahan yang telah kulakukan selama ini. Kesalahan dari sebuah perbuatan yang akan menyakitkan beberapa orang terdekat kami. Akhirnya tibalah hari itu, dimana aku memutuskan dan bertekad untuk benar-benar menjauh dari Vero. Aku ingin pergi menghilang tanpa jejak darinya. Kukirimkan sebuah pesan padanya agar kita tak lagi saling berhubungan. Dan sebuah persetujuan resmi dia katakan, sebuah persetujuan yang kupikir sama sekali tiada penyesalan pada dirinya jika harus benar-benar putus kontak denganku. Baiklah aku semakin menguatkan tekad, aku harus kuat.

                Satu bulan kemudian aku masih tak mampu melupakan keindahan dan manisnya masa-masa aku dekat dengan Vero, rasanya tak mampu jika diri ini harus benar-benar jauh darinya. Kemurungan, kesedihan, air mata itulah yang kulalui dan kurasakan setelah hari itu, setelah aku memutuskan menjauh darinya. Aku merasa perasaan ini tak dapat pergi begitu saja, aku bingung apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus menunggunya tanpa sebuah kepastian? Jujur saja walau dia pernah berkata “kita berteman saja”, tapi sikapnya setelah berkata seperti itu sama sekali tak menunjukkan sikap seorang teman sewajarnya. Tentu banyak pertanyaan kembali muncul dalam benakku, “apa dia benar-benar ingin berteman? Apa dia benar-benar tak ada perasaan denganku? Lalu apa artinya semua ini? Apa artinya perhatian dia selama ini?”. Dan aku pun memutuskan untuk menunggunya, menunggu sampai pertanyaan-pertanyaan itu terjawab dengan tegas.

                Setelah hampir lima bulan aku menunggu tetapi sama sekali tiada ketegasan darinya, bahkan dia bersenang-senang begitu saja, seperti tiada beban sedikit pun dalam dirinya. Menyakitkan, itulah yang kurasakan saat ini. Ketika sebuah botol yang telah terisi penuh oleh cinta untuknya, namun apa daya karena kebodohan botol tersebut, ia telah menyia-nyiakan cintanya hanya untuk menunggu ketidakpastian dari sebuah botol yang bahkan tak terisi cinta sedikitpun. Seperti itulah aku, bodoh ketika aku telah dibutakan oleh cinta, ketika aku tak lagi melihat kenyataan, ketika aku hanya berpegang pada dunia khayal yang tak semuanya mampu menjadi nyata. Dan kini, sebuah keyakinan telah benar-benar datang, keyakinan bahwa aku haru move, aku harus pindah, aku harus melupakannya. Kebodohan yang pernah kulakukan tidak boleh terulang kembali, aku tak mau jatuh pada lubang yang sama. Biarkan ini menjadi pengalaman dan pelajaran bagiku bahwa dahulu aku telah menyia-nyiakan waktuku hanya untuk berharap pada sebuah botol kosong yang sama sekali tak terisi cinta atau kasih sayang untukku.


                Sekarang, aku mulai semua dari awal lagi dan membuka lembaran baru. Melupakan keterpurukan yang pernah kulalui dan merubah keterpurukan itu menjadi sebuah keindahan dan kebahagiaan. Semoga kita bisa mencintai apa yang juga mencintai kita. Karena cinta diciptakan untuk dua insan manusia agar mereka mampu berbagi cinta dan kasih sayang mereka satu sama lain. Jadi, ketika cinta hanya ada pada dirimu, ketika dia yang kita cintai sama sekali tidak mencintai kita maka menjauhlah. Pergi menjauh sebelum kamu menyia-nyiakan waktu dan hatimu hanya untuk orang yang bahkan tidak mau memberikan hatinya untukmu. Lalu saat kamu berusaha pergi darinya, berdoa dan yakinlah bahwa cinta itu akan datang padamu meski kita tidak tahu kapan dan siapa.

You Might Also Like

0 komentar